Sepertinya kejadian ini akan terus
berulang dari masa ke masa sampai terdengarnya bunyi sangkakala, dimana
para ulama dicaci, dibenci dan bahkan difitnah. Ujian ini bukan hanya
untuk para ulama, tapi juga untuk kita.
karena
Rosululloh saw. pernah berkata: “Akan datang kepada manusia suatu
zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang
menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)
Apakah kita mampu “menggenggam bara” ini sampai ajal menjemput?
Panas
bara yang mengantarkan rasa sakit ke otak lalu menjalar ke seluruh
tubuh, panas yang kadang membuat kalap kemudian muak, panas yang kadang
memancing amarah.
Namun Allah takkan
pernah merugikan umat yang benar-benar mencintainya, siapa yang mampu
bersabar diatas ujian “menggenggam bara” ini, telah dijanjikan oleh
Allah satu hal yang diimpikan semua umat Islam, yaitu pertemuan yang
sangat manis dengan-Nya.
Lalu bagaimana
cara meredam rasa sakit, muak dan marah tersebut? Apa yang mampu
menolong kita dalam meredam semua rasa sakit, kesal dan marah tersebut?
Allah
menjawab: “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan
shalat. Dan shalat itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang
khusyuk, (yaitu) bagi mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui
Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali pada-Nya.” (QS. Al-Baqarah,
45-46)
Dengan melewati ujian
“menggenggam bara” ini menggunakan shalat dan sabar, mudah-mudahan Allah
mengizinkan kita untuk bisa berjumpa dengan-Nya di akhirat kelak.
Aamiin ya Robbal’alamin.
—
Sejarah dengan jelas mengungkap fakta.
Tidak hanya hari ini para ulama diserang.
Presiden pertama, founding father-nya negara inipun pernah menyerang seorang ulama besar.
Dianggap
melawan pemerintah (yang menurut saya sebenarnya pemerintah waktu itu
tak ingin mendapat kritikan yang cerdas), M. Yamin dan Soekarno
berkolaborasi menjatuhkan wibawa Buya Hamka melalui headline beberapa
media cetak yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.
Berbulan-bulan
Pramoedya menyerang Buya Hamka secara bertubi-tubi melalui tulisan di
koran (media yang paling tren saat itu), Allahuakbar! sedikitpun Buya
Hamka tak gentar, fokus Buya tak teralihkan, beliau terlalu mencintai
Allah dan saudara muslimya, sehingga serangan yang mencoba untuk
menyudutkan dirinya tak beliau hiraukan, Buya Hamka yakin jika kita
menolong agama Allah, maka Allah pasti menolong kita. Pasti!
Oh!
Buya Hamka terlalu kuat dan tak bisa dijatuhkan dengan serangan
pembunuhan karakter melalui media cetak yang diasuh oleh Pram, tak
sungkan-sungkan lagi, Soekarno langsung menjebloskan ulama besar
tersebut ke penjara tanpa melewati persidangan.
Seperti
doa nabi Yusuf as. ketika dipenjara: Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku,
penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan
jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan
cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk
orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf, 33)
Yah!
Saat itu penjara jauh lebih baik bagi Buya Hamka, jauh lebih baik
daripada menyerahkan kepatuhannya terhadap Allah kepada orang-orang yang
hanya mengejar dunia.
2 tahun 4 bulan
di dalam penjara tak beliau sia-siakan dengan bersedih, malah Buya Hamka
bersyukur telah dipenjara oleh penguasa pada masa itu, karena di dalam
penjara tersebut beliau memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan
cita-citanya, merampungkan tafsir Al-Qur’an 30 juz, yang sekarang lebih
kita kenal dengan nama kitab tafsir Al-Azhar.
Lalu bagaimana dengan ketiga tokoh tadi?
Ternyata
Allah masih sayang kepada Pramoedya, M. Yamin dan Soekarno. Karena apa
yang telah dilakukan oleh ketiga tokoh bangsa tersebut terhadap Buya
Hamka, tak harus diselesaikan di akhirat, Allah telah mengizinkan
permasalahan tersebut untuk diselesaikan di dunia saja.
Di
usia senjanya, Pramoedya akhirnya mengakui kesalahannya dimasa lalu dan
dengan rendah hati bersedia “meminta maaf” kepada Buya Hamka, ya!
Pramoedya mengirim putri sulungnya kepada Buya Hamka untuk belajar agama
dan men-syahadat-kan calon menantunya.
Apakah
Buya Hamka menolak? Tidak! Dengan lapang dada Buya Hamka mau
mengajarkan ilmu agama kepada anak beserta calon menantu Pramoedya,
tanpa sedikitpun pernah mengungkit kesalahan yang pernah dilakukan oleh
-salahsatu penulis terhebat yang pernah dimiliki indonesia- tersebut
terhadap dirinya. Allahuakbar! Begitu pemaafnya Buya Hamka.
Ketika
M. Yamin sakit keras dan merasa takkan lama lagi berada di dunia ini,
beliau meminta orang terdekatnya untuk memanggilkan Buya Hamka. Saat
Buya Hamka telah berada di sampingya, dengan kerendahan hati M. Yamin
(memohon maaf dengan) meminta kepada Buya Hamka agar sudi mengantarkan
jenazahnya untuk dikebumikan di kampung halaman yang telah lama tak
dikunjungi Talawi, dan di kesempatan nafas terakhirnya M. Yamin minta
agar Buya sendiri yang menuntunnya untuk mengucapkan kalimat-kalimat
tauhid.
Apakah Buya Hamka menolak?
Tidak! Buya Hamka menuluskan semua permintaan tersebut, Buya Hamka yang
“menjaga” jenazah -tokoh pemersatu bangsa- tersebut sampai selesai
dikebumikan dikampung halamannya sendiri.
Namun,
lain hal dengan Soekarno, malah Buya Hamka sangat merindukan
proklamator bangsa Indonesia tersebut, Buya Hamka ingin berterima kasih
telah diberi “hadiah penjara” oleh Bung Karno, yang dengan hadiah
tersebut Buya memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan tafsir
Al-Azharnya yang terkenal, dengan hadiah tersebut perjalanan ujian hidup
Buya menjadi semakin berliku namun indah, Buya Hamka ingin berterima
kasih untuk itu semua.
Lalu kemana
Soekarno? Kemana teman seperjuangannya dalam memerdekakan bangsa ini
menghilang? Dalam hati Buya Hamka sangat rindu ingin bertemu lagi dengan
-singa podium- tersebut. Tak ada marah, tak ada dendam, hanya satu kata
“rindu”.
Hari itu 16 Juni 1970, ajudan
presiden Soeharto datang kerumah Buya, membawa secarik kertas, kertas
yang tak biasa, kertas yang bertuliskan kalimat pendek namun membawa
kebahagian yang besar ke dada sang ulama besar, pesan tersebut dari
Soekarno, orang yang belakangan sangat beliau rindukan, dengan seksama
Buya Hamka membaca pesan tersebut:
“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”
Buya
Hamka bertanya kepada sang ajudan “Dimana? Dimana beliau sekarang?”
Dengan pelan dijawab oleh pengantar pesan “Bapak Soekarno telah wafat di
RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso.”
Mata
sayu Buya Hamka mulai berkaca, kerinduan itu, rasa ingin bertemu itu,
harus berhadapan dengan tubuh kaku, tak ada lagi pertemuan yang
diharapkan, tak ada lagi cengkrama tawa dimasa tua yang dirindukan,
hanya hamparan samudera maaf untuk saudaranya, mantan pemimpinnya,
pemberian maaf karena telah mempenjarakan beliau serta untaian lembut
doa dari hati yang ikhlas agar Bung Karno selamat di akhirat, hadiah khusus dari jiwa yang paling lembut sang ulama besar, Buya Hamka.
Dizaman sekarang, Mulai terasa sejarah itu
kembali terulang, dimana para penguasa mulai berusaha menyudutkan para
ulama, menyerang para ulama melalui media-media pendukung mereka,
menebar kebencian kepada para ulama melalui penulis-penulis pendukung
mereka.
Lalu ada yang berkata, “ulama
sekarang tak sehebat buya Hamka.” Tanya lagi hati kecil kita, apakah
mereka yang tak hebat, ataukah kita yang ingin menolak pesan kebenaran
itu sendiri.
Pertanyaannya:
– Di pihak siapa kita?
apakah di pihak para penguasa yang jelas sedang memuaskan nafsu duniawi mereka?
Ataukah di pihak para ulama yang menyampaikan kebenaran karena Allah, Tuhannya, Tuhan kita semua?
–
Akankah para penguasa yang memfitnah para ulama saat ini, diberi
kesempatan oleh Allah untuk meminta maaf sebelum ajal menjemput mereka?
Semoga saja, semoga kesalahan mereka tak harus diselesaikan yaumul
hisab. Aamiin ya Robbal’alamin
Demi Allah!
Saya mencintai Bung Karno, tanpa perjuangan beliau belum tentu kita bisa hidup seperti yang dirasa saat sekarang ini.
Saya mencintai Bung Karno, tanpa perjuangan beliau belum tentu kita bisa hidup seperti yang dirasa saat sekarang ini.
Demi Allah!
Saya mencintai M. Yamin, tanpa beliau, takkan pernah kita kenal apa itu Pancasila.
Saya mencintai M. Yamin, tanpa beliau, takkan pernah kita kenal apa itu Pancasila.
Demi Allah!
Saya mencintai Pramoedya Ananta Toer, beliau adalah mentor saya dalam menulis.
Saya mencintai Pramoedya Ananta Toer, beliau adalah mentor saya dalam menulis.
Demi Allah!
Cinta saya teramat besar kepada Buya Hamka, guru saya, orangtua saya, kakek saya, eyang buyut saya, salahsatu manusia yang selalu saya mintakan kepada Allah agar dapat mencium tangan dan memeluknya kelak di akhirat, salahsatu ulama yang paling saya banggakan, karena darah Minangnya, juga mengalir didalam tubuh saya, karena Tuhannya, Tuhan saya juga, Tuhan kita semua.
Cinta saya teramat besar kepada Buya Hamka, guru saya, orangtua saya, kakek saya, eyang buyut saya, salahsatu manusia yang selalu saya mintakan kepada Allah agar dapat mencium tangan dan memeluknya kelak di akhirat, salahsatu ulama yang paling saya banggakan, karena darah Minangnya, juga mengalir didalam tubuh saya, karena Tuhannya, Tuhan saya juga, Tuhan kita semua.
Maksud dari tulisan ini
hanyalah untuk menumbuhkan rasa cinta kita kepada para ulama, para wakil
Rosululloh, mulut mereka adalah “toa”nya Allah.
Tanpa mereka, kita takkan pernah tau mana ilmu yang berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist, mana ilmu yang berasal dari nafsu saja.
Tanpa mereka, kita takkan bisa menimbang, mana yang banyak manfaatnya, dan mana yang banyak mudharotnya.
Tanpa mereka, rasanya hidup hanya sebuah kesia-siaan.
—
Mari saudaraku, mari kita tutup dengan doa:
Ya Allah, Ya Mu’min,
Lindungilah ulama-ulama kami, dimanapun mereka berada
Lindungilah ulama-ulama kami, dimanapun mereka berada
Ya Allah, Ya Rozaq,
Limpahkan rezki-Mu kepada para ulama kami, sehingga mereka selamat dari sifat menjilat pada penguasa yang lalim
Limpahkan rezki-Mu kepada para ulama kami, sehingga mereka selamat dari sifat menjilat pada penguasa yang lalim
Ya Allah, Ya Rofi’,
Tinggikanlah wibawa para ulama kami, sehingga para penguasa yang lalim gemetar takut jiwa dan ruh nya ketika berhadapan dengan mereka
Tinggikanlah wibawa para ulama kami, sehingga para penguasa yang lalim gemetar takut jiwa dan ruh nya ketika berhadapan dengan mereka
Ya Allah, Ya Hayyu,
Sehatkan jiwa dan panjangkanlah umur ulama-ulama kami
Sehatkan jiwa dan panjangkanlah umur ulama-ulama kami
Ya Allah, Ya Dzul Jalali Wal Ikrom,
Jagalah kebesaran nama para ulama kami, dan muliakanlah hidup mereka baik di dunia, maupun di akhirat.
Jagalah kebesaran nama para ulama kami, dan muliakanlah hidup mereka baik di dunia, maupun di akhirat.
Ya Allah, Ya Syakur,
Balaslah kebaikan para ulama kami, baik di dunia, maupun di akhirat kelak
Balaslah kebaikan para ulama kami, baik di dunia, maupun di akhirat kelak
Ya Allah, Ya Tawwab,
Maafkanlah kami, jika pernah berprasangka buruk terhadap ulama-ulama kami
Maafkanlah kami, jika pernah berprasangka buruk terhadap ulama-ulama kami
Ya Allah, Engkau Maha Mendengar
Ya Allah, Engkau Maha Melihat
Ya Allah, Engkau Maha Mengabulkan Doa
Ya Allah, Engkau Maha Melihat
Ya Allah, Engkau Maha Mengabulkan Doa
Sesungguhnya kami mencintai para ulama kami hanya karena Engkau
Maka ya Allah kabulkanlah doa kami ini
Aamiin ya Robbal’alamin.
—
Terima kasih untuk para ulama
Terima kasih untuk dorongan kalian agar kami selalu bertaqwa
Terima kasih untuk mengajarkan kami bagaimana cara hidup di dunia
Terima kasih untuk segala bantuan kalian agar kami selamat hidup di akhirat kelak
Terima kasih telah menjerumuskan kami kedalam jurang kebenaran.
Terima kasih untuk dorongan kalian agar kami selalu bertaqwa
Terima kasih untuk mengajarkan kami bagaimana cara hidup di dunia
Terima kasih untuk segala bantuan kalian agar kami selamat hidup di akhirat kelak
Terima kasih telah menjerumuskan kami kedalam jurang kebenaran.
(dakwatuna.com/hdn)

0 Response to "Ulama dan Fitnah"
Post a Comment