Mantan
staf khusus Susilo Bambang Yudhoyono, Andi Arief berkicau di Twitter
tentang adanya upaya presiden Joko Widodo menjegal pasangan calon
Gubernur DKI Jakarta nomor urut satu, Agus Yudhoyono-Sylviana Murni.
"Cerita seorang menteri yang berkantor di Istana, Jokowi tidak rela Ahok
kalah, "potong leher saya" kalau Ahok kalah," tulis Andi Arief lewat
akun @andiariefaa, hari ini.
Pasangan Agus, Sylviana Murni diberitakan akan diperiksa Direktorat
Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri untuk dimintai keterangan terkait
dugaan korupsi dalam pengelolaan dana bansos Pemerintah Provinsi DKI
Jakarta di Kwarda gerakan pramuka DKI tahun anggaran 2014 Rp 6,81 Miliar
dan tahun 2015 sebesar Rp 6,81 Miliar.
Andi menilai, pemeriksaan Sylvi merupakan upaya kriminalisasi.
"Pengelola Dana bansos itu centralistik di Jakarta, ada pada Gubernur
dan Wakil Gubernur, misalnya Guntur Romli dapat bansos dari Ahok," tulis
Andi.
Lewat kriminalisasi itu, kata Andi, sejarah akan mencatat, meski belum
tentu berhasil, Jokowi sudah memperalat polisi menjegal AHY.
Dia juga meminta agar, polisi memeriksa istri Joko Widodo, Iriana.
"Bukankah juga sebagai penerima Dana bansos 2013 sebagai ketua Dharma
wanita?," kata Andi.
Selain Iriana, polisi juga harus
mengusut aliran dana Bansos ke Polda Metro Jaya. "Jaman kapolda Metro
Pak tito Polda Metro terima Bansos DKI Tahun 2014 Rp. 29.578.105.415.
Mudah-mudahan ini juga diperiksa," katanya.
Andi berharap agar Sylvi kuat
menghadapi, segala persoalan hukum yang menjeratnya. "Setelah isu masjid
gagal, sekarang pake isu kwarda Pramuka. Hadapi bu, Ibu tokoh perempuan
yang hebat," kata Andi.
Dikatakan Andi, kasus yang menimpa Sylvi akan mentah. "Jokowi cemas
kekuasaannya hilang jika anak ingusan menang. Saya khawatir AHY
dihabisi dengan cara lain," katanya. [rimanews]
0 Response to "Jokowi tidak rela Ahok kalah, "potong leher saya" kalau Ahok kalah "
Post a Comment