Densus 88, Pasukan Anti Teror Atau Anti Islam?
Bismillhirrohmanirrohim
Siapa orang Indonesia sekarang ini yang tidak mengenal Densus 88? Pasukan khusus berlambang
burung hantu dengan seragam hitam dan selalu memanggul senapan serbu
dalam setiap aksinya. Pasukan yang dalam beberapa tahun belakangan ini
menyita perhatian publik, karena selalu beraksi bak pahlawan dalam film
action pada operasi mereka.
Seperti pekan lalu, Densus 88 kembali
melakukan operasi besar-besaran di beberapa daerah di Jawa Barat dan
Jawa tengah bahkan bergerak hingga ke lampung di ujung pulau sumatra.
Puluhan orang yang masih terduga menjadi target, baik dengan
menghilangkan nyawa mereka atau menangkapnya hidup-hidup.
Semua
media baik cetak maupun elektronik ramai-ramai memberitakan peristiwa
ini dan seakan bertindak sebagai hakim, media-media itu memvonis dari
tempat kejadian perkara, bahwa para terduga adalah teroris berbahaya,
membawa senjata, melawan dan semua tuduhan negatif lain tanpa
pengadilan. Saat itu, posisi para ahli hukum sebagai hakim yang bekerja
di pengadilan benar-benar sudah di kudeta oleh media-media itu.
-) Benarkah target Densus 88 adalah orang jahat?
“Dobrak pintu rumah, todongkan senjata, ancam semua orang di rumah,
selesaikan misi.” Begitulah kira-kira cara kerja pasukan berseragam
hitam ini. Coba anda berpikir, akal sehat dan adat istiadat mana yang
membenarkan orang lain memasuki rumah seseorang tanpa izin pemiliknya
bahkan merusak pintunya, kemudian merusak kehormatan keluarganya.
Bisakah anda bayangkan, jika di rumah itu ada muslimah yang belum
menutup semua auratnya ketika Densus beraksi. Bukankah itu sebuah
penghinaan kepada muslimah? Di negara Indonesia ini yang dikenal dunia
dengan keramahannya. Orang desa yang tidak bersekolahpun pasti tahu,
bahwa memasuki rumah orang lain tanpa sopan santun itu perbuatan
tercela. Apalagi sampai mendobrak pintu dan melanggar prifasi
keluarganya. Tapi anehnya, pemimpin lembaga yang selalu menyertai
langkah Densus 88 menyatakan bahwa apa yang dilakukan Densus adalah hal
manusiawi. Siapa yang lebih berpendidikan?
Tidak sedikit berita yang
mengabarkan bahwa korban Densus 88 adalah orang yang dikenal baik di
lingkungannya, orang yang ramah kepada tetangga, dan hal-hal lain yang
sama sekali tidak menunjukkan sifat-sifat keji dan tercela sebagaimana
dilakukan para koruptor dan para preman jalanan saat ini. Bahkan ada
yang merupakan ustadz-ustadz yang mengajarkan tentang Islam di
lingkungannya.
Pertanyaan yang harus dijawab adalah, kenapa selama
ini target detasemen khusus ini adalah orang Islam? Sedangkan kepada RMS
dan OPM yang jelas-jelas memberikan teror di daerah mereka, pasukan
khusus ini diam menutup mata. Apakah karena mereka bukan orang yang
beragama Islam?
-) Sikap umat Islam terhadap Densus 88
Indonesia
adalah salah satu dari beberapa negara yang mempunyai penduduk
mayoritas beragama Islam. Maka, sudah saatnya umat Islam yang mayoritas
ini untuk bersikap cerdas dengan memahami hakikat pembunuhan dan
penangkapan yang selama ini dilakukan oleh Densus 88. Umat Islam pasti
pernah mendengar bahwa musuh Islam memerangi agama ini dengan perang
pemikiran (ghozwatul fikr). Maka, dengan melihat fakta dan realita yang
ada selama ini, tidakkah ada Ulama’ dan para ahli ilmu Islam yang
berkesimpulan bahwa aksi Densus 88 selama ini adalah perang fisik
terhadap umat Islam?
Jika kaum Muslimin pernah mendengar, bahwa yang
menjadi target operasi densus adalah orang yang ingin mengamalkan
syari’at Islam. Maka, apakah tidak mungkin jika dikemudian hari target
mereka adalah umat Islam itu sendiri.
Sekarang ini, saatnya umat
Islam di Indonesia untuk tidak lagi menelan mentah-mentah berita yang
dihembuskan oleh media-media yang tidak berpihak kepada Islam, terutama
berita-berita yang berkaitan dengan aksi Densus 88. Saatnya kembali
kepada media yang berpihak kepada Islam dan memahami realita yang ada,
kemudian bersikap dengan ilmu dan amalan.
-) Pemuda Islam sebagai harapan.
Dahulu di zaman Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, ketika musuh
berusaha untuk menghancurkan Islam. Para pemuda Islam berlomba-lomba
berada di garis terdepan untuk melawan. Bahkan ada beberapa pemuda yang
dilarang oleh Rasulullah untuk berpartisipasi karena umur mereka yang
terlalu dini. Tetapi itu tidak menyurutkan niat mereka untuk membela
Islam di kemudian hari.
Kita dapati dalam sejarah Islam. Di umur
yang belum mencapai dua puluh tahun, Usamah bin Zaid -radhiyallahu anhu-
memimpin pasukan kaum Muslimin mengalahkan musuh sedang di dalam
pasukan tersebut terdapat para Sahabat-sahabat
senior -radhiyallahu
anhum yang tentunya lebih berpengalaman darinya. Jadi, adakah diantara
para pemuda Islam hari ini yang akan mengikuti jejak Usamah bin zaid
-radhiyallahu anhu?
Wallahu'Alam
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 Response to "Densus 88, Pasukan Anti Teror Atau Anti Islam?"
Post a Comment